DISCLAIMER

Tulisan ini ditulis pada tanggal 21 Desember 2021.


Dipusat Kota, pasangan tua hingga yang muda, tepatnya dihari ini, dimalam ini semua mata tertuju ke atas langit, bukan untuk melihat alien yang mengendarai uvo, melainkan letusan kembang api yang mewarnai langit. Semua orang bergandengan, semua saling merangkul, semua saling memeluk, bahkan tidak segan untuk berciuman.

-Pikir si pemuda berkacamata menguyup kopi dengan rokok di sela jarinya, tersender diantara tembok yang kusam.-


Disela melamunku itu, aku terfikir oleh bayang-mu, ya kamu yang jauh disana, kita yang terpisah akan pulau-pulau yang membentang, disaat aku ingin menguyup kopiku, aku berfikir kamu sedang bersenang-senang dengan lelaki lain disana. Pikiranku sungguh mengacau! Aku hanyalah pria bodoh yang mengharapkanmu seutuhnya.

Bersenang-senanglah, nikmatilah malam ini, rasakan euforianya, bernyanyilah dengan lantang seakan diiringi suaru letusan kembang api, peluklah lelakimu, bersenderlah di pundaknya, jangan hiraukan orang-orang disampingmu, jika semua telah usai, pulanglah, aku harap kamu tidak berkembang biak.


Namun, akhir bukan selalu berakhir, hari ini bukan berarti tidak ada hari esok, desember iniput bukan berarti tidak ada Desember yang akan datang. Tapi bagaimana dengan perasaan ini? Apakah masih sama dengan hari, bulan, tahun yang akan datang? Jika iya, tunggu  saja saya di kotamu, namun jika tidak, akan saya diskusikan lagi dengan Tuhan.